40 Detik Menentukan Nasib: Ujian Praktikum Anatomi Antara Hafalan, Insting, dan Kepanikan
Oleh: Meuthia Najwa Sabrina
Saya adalah mahasiswa baru dari jurusan S1 Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Sebagai mahasiswa baru, saya mendapat banyak pengalaman menarik di kampus, termasuk saat Ujian Tengah Semester (UTS) semester pertama. Pengalaman paling berkesan selama masa awal kuliah di UNESA ini adalah ujian praktikum anatomi. Saat itu, kami berbaris sesuai nomor induk mahasiswa (NIM). Di depan kami, ada tulang-tulang yang sudah diberi tanda dan nomor. Kami harus menyebutkan nama tulang tersebut dalam waktu 40 detik saja. Momen itu benar-benar menegangkan bagi kami semua sebagai mahasiswa baru.
Bayangkan saja, kamu berdiri di depan meja yang penuh dengan berbagai bagian tulang, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Semua itu harus ditebak dalam 40 detik. Otak langsung kosong, tangan terasa dingin, dan panik. Dosen hanya berkata, "Waktu habis, silahkan pindah ke nomor berikutnya." Waktu terasa begitu cepat, seolah 40 detik seperti 5 detik. Hampir semua teman mengeluh. Mereka yang awalnya hafal semua nama tulang tiba-tiba lupa saat masuk ruang lab anatomi. Misalnya, tulang femur dijawab sebagai humerus. Kadang aku bertanya-tanya, kenapa otak suka iseng? Saat belajar santai, semua nama keluar lancar. Tapi saat ujian, tiba-tiba blank total. Bahkan tulang yang biasanya mudah diingat mendadak terasa seperti yang baru dipelajari.
Namun, di balik ketegangan itu, ada rasa bangga tersendiri. Setelah keluar ruangan, meski keringat dingin dan kepala pusing, kami bisa tertawa bersama teman. Kami membahas betapa lucunya kami menebak nama tulang dengan percaya diri, padahal jawabannya salah besar. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa panik bisa membuat semua yang dipelajari hilang seketika. Kita perlu belajar mengontrol emosi agar tetap tenang dalam situasi seperti ujian praktikum anatomi tadi. Jadi, untuk teman-teman yang akan menghadapi ujian anatomi berikutnya, satu pesan dariku: jangan hanya menghafal nama tulang, tapi juga latih emosi dan pikiranmu agar kuat menghadapi "serangan" dosen dengan stopwatch-nya.