Ketika Gerak Menjadi Harapan: Motivasi Saya Menjadi Fisioterapis
Oleh: Nisrina Fauzia Kinanthi
Minat saya untuk masuk ke jurusan fisioterapi bermula dari pengalaman enam tahun lalu, ketika kakak saya menjalani terapi setelah mengalami kecelakaan. Saat itu, saya mulai mengenal profesi fisioterapis dan peran pentingnya dalam membantu proses pemulihan pasien. Namun, pada awalnya ketertarikan tersebut belum sepenuhnya muncul dari diri saya sendiri. Sebagian besar keputusan untuk mengambil jurusan fisioterapi juga merupakan dorongan dari orang tua.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai menjalani perkuliahan fisioterapi dengan berbagai tantangan. Banyak materi yang harus dihafalkan, terutama anatomi tubuh manusia yang cukup rumit. Di tengah proses belajar tersebut, saya mengalami peristiwa yang tidak terduga. Pada akhir semester pertama, saya mengalami patah tulang pada pergelangan tangan kiri dan harus menggunakan gips selama satu bulan.
Selama masa pemulihan, saya merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi pasien. Aktivitas sehari-hari menjadi terbatas, tetapi saya berusaha untuk tetap menggerakkan tangan perlahan agar otot tidak melemah, sesuai dengan pengetahuan yang telah saya pelajari. Setelah gips dilepas, tangan saya mulai pulih meskipun masih terasa nyeri. Dengan latihan dan perawatan secara rutin, fungsi tangan saya akhirnya kembali seperti semula.
Beberapa bulan kemudian, saya kembali diuji ketika ayah saya mengalami stroke pada akhir bulan Agustus. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, ayah dirujuk ke bagian fisioterapi untuk mendapatkan terapi agar bisa beraktivitas kembali. Selama dua bulan menjalani terapi, saya melihat secara langsung bagaimana proses latihan yang konsisten dapat membantu ayah saya untuk kembali berdiri dan berjalan, meskipun masih dengan alat bantu.
Dari pengalaman pribadi dan keluarga, saya mulai memahami makna sebenarnya dari fisioterapi. Fisioterapi bukan hanya tentang latihan fisik, tetapi juga tentang memberikan harapan dan membantu seseorang memperoleh kembali kemampuan fungsionalnya. Melihat proses pemulihan pasien secara nyata membuat saya semakin yakin dengan pilihan saya.
Saya ingin menjadi seorang fisioterapis karena saya ingin membantu orang-orang agar dapat kembali menjalani aktivitas seperti sebelumnya. Melalui fisioterapi, saya berharap dapat memberikan manfaat bagi banyak orang, terutama mereka yang sedang berjuang untuk pulih dan mandiri kembali dalam kehidupannya.