Melewati Kejutan Anatomi: Tantangan Awal Saya sebagai Mahasiswa Fisioterapi
Oleh: Farros Ryan Wibisono
Saat masih sma, jujur saya tidak terlalu
tertarik dengan jurusan fisioterapi bahkan nilai biologi saya saat di sma
tergolong biasa saja dan tidak terlalu baik juga tidak buruk juga. Titik balik
saya adalah saat melakukan research terkait dengan fisioterapis indonesia,
menurut Ikatan Fisioterapi Indonesia(IFI), jumlah tenaga kesehatan di bidang
fisioterapis di indonesia tergolong masih rendah dan kurang memenuhi standar jumlah
umum yang diperlukan di seluruh Indonesia. Apalagi dengan tantangan karir dari
tahun ke tahun, dimana pekerjaan mulai sulit untuk didapatkan, saya rasa
menjadi fisioterapis bukanlah sesuatu yang buruk.
Dan akhirnya terjawab juga saat snbp,
saya diterima masuk sebagai mahasiswa baru prodi fisioterapi Universitas Negeri
Surabaya. Saat pertama kali masuk kuliah dan melihat beberapa mata kuliah wajib
kedokteran, jujur kaget, pusing dan bingung tapi juga penasaran. Terutama satu
mata kuliah yang menjadi sangat sangat krusial bagi mahasiswa fisioterapi
adalah anatomi, dulu saat sma cukup mengetahui osteo besarnya saja. Saat kuliah
di spesifik lagi terkait osteo dan muskulus. Cukup melelahkan tapi layak untuk
dipelajari, karena anatomi semakin dipelajari semakin membuat penasaran juga.
Karena itu saya menjadi cukup puas telah memasuki prodi ini, untuk prestasi dan penghargaan saya belum mendapatkannya namun saya yakin bahwa, saya akan berusaha dan secara bertahap untuk progress dalam prestasi terutama di bidang fisioterapis.