Transformasi Fisioterapi: Menyambut Masa Depan Profesi Melalui Sistem Gerak Manusia
UNESA, [22 Juni 2025] – Dalam rangkaian HUT IFI ke 57, telah diselenggarakan Kegiatan Kajian Subuh Move to Campus UNESA bertajuk “The Human Movement System & The Future Physiotherapy”. Acara ini menjadi momentum reflektif sekaligus edukatif yang membuka cakrawala baru fisioterapis tentang masa depan profesi fisioterapi di era modern.
Acara yang berlangsung pada Hari Minggu, 22 Juni 2025 di Auditorium Lt.9 FK UNESA ini menghadirkan special guest Bapak Parmono Dwi putro sebagai Ketua PP IFI beserta jajaran pengurus pusat lainnya. Acara ini membahas secara mendalam tentang konsep sistem gerak manusia sebagai dasar dari keilmuan fisioterapi serta perannya dalam menjawab tantangan masa depan kesehatan global.
Fisioterapi: Lebih dari Sekadar Rehabilitasi
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa fisioterapi saat ini tengah mengalami transformasi besar: dari profesi yang sebelumnya lebih dikenal sebagai “rehabilitasi pasca cedera”, kini berkembang menjadi bagian sentral dalam promosi kesehatan, pencegahan disabilitas, dan optimalisasi fungsi gerak manusia. Konsep Human Movement System menjadi kerangka baru dalam memahami tubuh manusia sebagai satu kesatuan sistem biologis dan biomekanis yang kompleks.
“Fisioterapi hari ini harus menjadi profesional yang tak hanya paham anatomi, tetapi juga berpikir sistematis dari basic biomolekuler, yang berbasis evidenced base,” Ucap Narasumber bapak Muhammad Irfan.
Menuju Masa Depan Fisioterapi
Acara ini juga menjadi ajang diskusi tentang masa depan fisioterapi, termasuk peluang dan tantangan profesi di tengah perkembangan teknologi seperti tele-rehabilitation, robotik terapi, dan kecerdasan buatan (AI) dalam penanganan pasien.
Fisioterapis yang hadir diajak untuk memahami bahwa profesi fisioterapi tidak lagi terbatas menguatkan otot yang lemah, dan melemaskan otot yang tegang. Peran fisioterapis kini merambah bagaimana menciptakan intervensi yang efektif, dan longlasting .
Narasumber juga memaparkan bahwasannya diagnosis fisioterapi tidak perlu berfokus pada penentuan struktur anatomi yang terdampak secara spesifik. Cukup dengan mengevaluasi keterbatasan fungsi yang muncul, fisioterapis dapat menyusun intervensi latihan yang komprehensif”
Pendekatan ini memberikan pemahaman bahwa tugas fisioterapi bukan hanya dari perbaikan struktur, tetapi dari peningkatan fungsi secara dan partisipasi pasien dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan:
Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Dengan semangat Transformasi Fisioterapi, diharapkan lahir fisioterapis yang adaptif, kompeten, serta kreatif dalam mendesign Latihan dan siap berkontribusi dalam sistem pelayanan kesehatan nasional dan global.
Karena di balik setiap gerakan, ada kehidupan. Dan di balik profesi fisioterapi, ada tanggung jawab besar untuk menjaga dan memulihkan kualitas hidup manusia.