Antara Si Praktis dan Si Siap Segalanya di Dunia Perkuliahan
Oleh: Vika Auralya
Setiap mahasiswa punya caranya masing-masing untuk bertahan hidup di dunia perkuliahan, dan anehnya, salah satu cara itu bisa dilihat dari… tasnya. Yaps betul, tas. Barang sederhana yang hari hari selalu dibawa ke kampus itu ternyata bisa jadi cerminan karakter, gaya hidup, bahkan tingkat kesiapan menghadapi dosen dadakan yang tiba-tiba minta presentasi.
Pertama ada anak ransel yang siap menghadapi apa pun. Isi tasnya jangan ditanya, semua tersedia mulai dari laptop, charger, botol minum besar, buku catatan, payung yang selalu setia, dan mungkin juga roti kering sisa seminggu lalu. Mereka ini tipe perencana sejati. Bagi mereka, lebih baik bawa berlebih daripada menyesal nanti. Bahu pegal sedikit nggak masalah, asal semua kebutuhan aman dalam satu wadah.Tasnya berat, tapi hatinya kuat. Meskipun mereka sering pegal di bahu, tapi mereka juga yang paling siap ketika teman-temannya panik cari spidol atau kabel data.
Lain lagi sama anak selempang. Mereka hidupnya lebih simpel dan efisien. Mereka juga punya prinsip “yang penting cepat, ringan, dan efisien.”Barang bawaan minimal, tapi semua serba tertata dan sudah diperhitungkan. Isinya biasanya ada iPad, dompet, sebuah pulpen dan semangat yang kadang on-off tergantung dosen. Satu-satunya risiko dari hidup minimalis ini cuma satu yaitu bahu miring sebelah.
Namun dibalik itu semua, pilihan tas bukan cuma soal gaya, tapi soal strategi bertahan di dunia kuliah. Ada yang lebih memilih bahu pegal demi ketenangan batin, ada yang rela bawa barang sedikit demi hidup ringan, dan ada juga yang cuma pengin tampil keren meski tugas belum dikumpul. Apa pun tasnya, satu hal yang pasti: semua mahasiswa sama-sama berjuang dengan caranya masing-masing.
Menariknya, pilihan tas dan isinya ini bukan sekadar soal kenyamanan, tapi juga tentang kontribusi kita terhadap masa depan bumi. Di tengah isu perubahan iklim yang menjadi fokus dalam SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, banyak mahasiswa yang mulai beralih ke gaya hidup berkelanjutan. Si anak ransel yang setia membawa botol minum sendiri secara tidak langsung telah mengurangi limbah plastik sekali pakai. Begitu pula dengan pilihan tas yang berkualitas tinggi dan tahan lama (durable), yang menunjukkan kesadaran untuk tidak terjebak dalam arus fast fashion yang merusak lingkungan. Ternyata, di balik rutinitas memanggul tas ke kampus, ada langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem demi masa depan yang lebih hijau.