Belajar Menjaga Keseimbangan antara Kuliah Fisioterapi dan Aktivitas Organisasi
Oleh: Suci Nurmarisa
Menjadi mahasiswa fisioterapi berarti siap menghadapi jadwal perkuliahan yang padat, mulai dari kuliah teori, praktikum, hingga berbagai tugas laporan. Kondisi ini menuntut kemampuan manajemen waktu yang baik agar seluruh kewajiban akademik dapat dijalani dengan maksimal. Di tengah kesibukan tersebut, saya memilih untuk tetap aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa (HIMA), khususnya di divisi kewirausahaan, sebagai wadah untuk belajar dan mengembangkan diri di luar ruang kelas.
Pada awal menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus pengurus organisasi, saya merasakan tantangan yang cukup besar. Waktu terasa terbatas dan kelelahan sering muncul setelah menjalani aktivitas seharian. Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami pentingnya menentukan prioritas serta menjalani setiap tanggung jawab dengan kesadaran dan disiplin. Kebiasaan ini perlahan membentuk pola hidup yang lebih teratur dan terencana.
Melalui divisi kewirausahaan, saya belajar bahwa berwirausaha tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga pada proses kerja sama tim, penyampaian ide, dan kemampuan melihat peluang dari hal-hal sederhana. Setiap kegiatan yang dijalani memberikan pengalaman baru yang berharga, terutama karena dilakukan bersama rekan-rekan yang saling mendukung dan memiliki tujuan yang sama untuk berkembang.
Pengalaman berorganisasi di bidang kewirausahaan juga memiliki keterkaitan dengan dunia fisioterapi. Keduanya menanamkan nilai kedisiplinan, ketekunan, serta kemampuan beradaptasi. Jika fisioterapi mengajarkan untuk memahami kebutuhan pasien, kewirausahaan melatih kepekaan dalam memahami kebutuhan orang lain dari sudut pandang yang berbeda. Perbedaan bidang ini justru saling melengkapi dalam membentuk pola pikir dan sikap.
Meskipun ada hari-hari yang terasa melelahkan saat tuntutan akademik dan organisasi datang bersamaan, pengalaman tersebut memberikan kepuasan tersendiri. Kuliah tetap menjadi prioritas utama, sementara organisasi menjadi sarana pembelajaran tambahan. Bagi saya, menjalani keduanya bukanlah beban, melainkan proses berharga dalam mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi dunia setelah lulus nanti.