Dari Lab ke Lapak : Kisah Mahasiswa Fisioterapi UNESA yang Jago Bagi Waktu dan Cari Cuan
Oleh: Evania Yaffa W
Ditengah padatnya jadwal kuliah, praktikum di laboratorium, dan tugas-tugas akademik bukan menjadi halangan bagi mahasiswa anggota Himpunan Mahasiswa (HIMA) Fisioterapi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Di tengah kesibukan itu, justru mereka memilih untuk mengambil peran tambahan: menjadi seorang wirausaha muda. Aktivitas ini bukan sekadar hobi atau kerja sampingan biasa, melainkan sebuah misi kolektif yang terstruktur untuk mengisi kas organisasi sambil mencari pengalaman berharga jauh sebelum mereka lulus dan terjun ke dunia profesional.
“Awalnya memang terasa berat, harus membagi waktu antara belajar teori anatomi atau fisiologi dengan mengelola penjualan,namun dari sini saya belajar bagaimana membagi waktu” akui salah seorang pengurus divisi usaha. Namun, justru di sinilah letak pembelajaran sebenarnya. Mereka belajar time management secara langsung, sebuah skill yang tak ternilai harganya. Kesibukan kewirausahaan ini memaksa mereka untuk disiplin, membuat prioritas, dan bekerja secara tim dengan efisien. Hasilnya bukan hanya produk yang terjual, tetapi juga peningkatan dalam produktivitas akademik karena terbiasa mengatur waktu dengan ketat.
Dari segi pendanaan, usaha-usaha kreatif ini memberikan hasil yang cukup bagi kegiatan HIMA. Sumbangan iuran anggota seringkali terbatas untuk membiayai event besar atau program sosial. Dengan berjualan makanan ringan dan jersey kebanggan fisioterapi unesa, mereka menciptakan sumber pemasukan mandiri. Dana ini kemudian dialirkan kembali untuk kepentingan anggota. Dengan kata lain, mereka memutar roda ekonomi organisasi dengan tangan mereka sendiri.
Lebih dari sekadar urusan keuangan, kewirausahaan ini adalah laboratorium pengalaman nyata. Di sini, mereka tidak lagi berhadapan dengan fantom kasus di buku teks, tetapi dengan kebutuhan nyata konsumen. Tantangan seperti kelelahan, ujian yang berbarengan dengan pesanan yang menumpuk, atau kesulitan logistik tentu sering mereka hadapi. Namun, semangat kolektivitas dalam HIMA menjadi penguat. Tugas-tugas usaha dibagi secara bergiliran dan gotong royong sesuai dengan kesibukan akademik masing-masing.
Pada akhirnya, pilihan mereka untuk berwirausaha di tengah kesibukan kuliah adalah sebuah investasi. Investasi untuk kemandirian organisasi mereka, dan yang lebih penting, investasi untuk masa depan diri mereka sendiri. Mereka tidak hanya lulus dengan gelar S.Ftr., tetapi juga dengan mental seorang problem solver, seorang innovator, dan seorang pengelola yang telah teruji di lapangan. Mereka membuktikan bahwa kesibukan bukanlah halangan, melainkan medan tempa yang sempurna untuk melahirkan calon fisioterapis yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi kompleksitas dunia kerja yang sebenarnya.