Dari Penyesalan Menjadi Semangat: Perjalanan Menemukan Jati Diri di Fisioterapi
Oleh: Jacinda Nasya Nathania Zahra
Saat pertama kali dinyatakan diterima di Program Studi S1 Fisioterapi, jujur saya tidak merasakan kebanggaan seperti yang seharusnya. Ada rasa ragu, cemas, bahkan penyesalan yang cukup dalam. Saya sempat mempertanyakan apakah ini benar-benar jalan yang tepat. Fisioterapi tidak pernah ada dalam daftar impian saya sebelumnya. Saya masuk dengan perasaan gamang, seperti berdiri di persimpangan tanpa arah yang jelas.
Namun hidup sering kali menunjukkan jalannya dengan cara yang tak terduga.
Seiring waktu, langkah saya di dunia perkuliahan fisioterapi perlahan berubah. Bukan karena tugas, modul, atau teori semata, tetapi karena pengalaman nyata yang justru membuka mata saya. Berbagai kesempatan terjun langsung mulai dari event kampus, kegiatan on-field, hingga keterlibatan dalam program yang bersentuhan dengan Masyarakat menjadi titik balik yang menumbuhkan kecintaan baru dalam diri saya.
Saat pertama kali terjun di lapangan, membantu peserta event olahraga, memberikan pertolongan dasar, atau sekadar memastikan mereka tetap aman dan bugar, saya merasakan sesuatu yang tidak pernah saya temukan sebelumnya: makna. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika bisa membantu orang lain pulih, bergerak lebih baik, atau sekadar merasa lebih nyaman. Dari situ, saya mulai memahami esensi sejati seorang fisioterapis—bukan hanya profesi, tetapi bentuk kepedulian yang diwujudkan melalui gerak, sentuhan, dan ilmu pengetahuan.
Pengalaman on-field mengajarkan saya ketangguhan. Event demi event memperlihatkan bagaimana seorang fisioterapis harus gesit mengambil keputusan, peka terhadap kondisi atlet, dan bertanggung jawab terhadap keselamatan mereka. Sedangkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat memberikan perspektif yang lebih luas. Berada di tengah masyarakat yang membutuhkan edukasi kesehatan, latihan dasar, atau pendampingan fisik membuat saya menyadari bahwa ilmu fisioterapi memiliki dampak yang sangat nyata bagi kehidupan banyak orang. Rasanya luar biasa bisa menjadi bagian dari perubahan kecil namun berarti.
Dari semua perjalanan itu, penyesalan yang dulu saya rasakan perlahan memudar. Bahkan, kini saya justru bersyukur—karena jalan yang awalnya tidak saya pilih ini ternyata membawa saya kepada panggilan hati yang sesungguhnya. Saya menemukan tujuan, arah, dan semangat yang tidak pernah saya sangka akan muncul.
Hari ini, saya berdiri sebagai mahasiswa fisioterapi dengan hati yang penuh. Bukan lagi ragu atau menyesal, tetapi bangga dan bersemangat. Saya ingin melangkah lebih jauh, belajar lebih dalam, dan menjadi fisioterapis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki kepekaan dan empati. Saya ingin membalas semua pengalaman berharga itu dengan memberikan kontribusi terbaik untuk masyarakat.
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa terkadang kita tidak selalu menemukan passion sejak awal. Kadang, passion itu tumbuh dari proses, dari pengalaman, dan dari keberanian untuk mencoba. Saya memulai langkah dengan hati yang enggan, namun kini melanjutkannya dengan mimpi yang matang.
Dan di fisioterapi, saya menemukan rumah baru. Rumah tempat saya tumbuh, memberi, dan ingin terus berjuang.