Mengembangkan Kemampuan Public Speaking dan Riset sebagai Mahasiswa Fisioterapi
Oleh: Rifdatun Nabihah
Sejak dahulu saya memiliki ketertarikan pada dunia public speaking. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh latar belakang keluarga yang terbiasa berbiacar di depan umum. Setiap kali melihat seseorang berpidato atau memandu acara, saya selalu memperhatikan kata demi kata yang disampaikan. Namun demikian, ketika masih duduk di bangku sekolah, saya justru jarang tampil untuk berbicara di depan umum.
Saat memasuki masa perkuliahan, terutama setelah saya menempuh pendidikan jurusan Fisioterapi, kesempatan untuk mengasah kemampuan public speaking mulai terbuka lebar. Saya beberapa kali dipercaya menjadi Master of Ceremony dan baru-baru ini saya memperoleh pengalaman pertama sebagai moderator. Momen tersebut terasa lebih berkesan karena salah satu narasumbernya adalah adik sepupu sendiri. Ada rasa bangga ketika saya dapat menunjukkan kepada keluarga bahwa saya juga mampu tampil sebagai moderator, meskipun masih banyak hal yang harus saya pelajari.
Usai acara, ketika kami berbincang di area belakang panggung, beliau mengatakan “Bagus Mbak moderatornya. Kukira sudah sering menjadi moderator, flow-nya sudah enak sekali”. Mendengar pujian itu, saya merasa sangat bahagia terlebih lagi karena disampaikan oleh seseorang yang menempuh studi ilmu komunikasi.
Sebagai mahasiswa fisioterapi, saya menyadari bahwa kemampuan public speaking bukan sekedar keterampilan tambahan, tetapi juga bagian penting dalam dunia kesehatan. Fisioterapi tidak hanya dituntut memiliki kompetensi klinis, tetapi juga harus mampu memberikan edukasi, memandu pasien, menyampaikan materi promosi kesehatan, serta berkomunikasi efektif antar tenaga kesehatan. Karena itu, saya merasa bahwa setiap kesempatan untuk berbicara di depan umum adalah bekal berharga untuk profesi saya kelak.
Selain mengembangkan public speaking, saya juga sering mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam penelitian dosen. Salah satu penelitian yang saya ikuti berjudul “Peningkatan Konsentrasi melalui Pengetahuan Peran Hemoglobin dan Aktivitas Fisik”, yaitu program yang bertujuan meningkatkan konsentrasi siswa melalui pemberian aktivitas fisik sambil mengenalkan fungsi hemoglobin dalam tubuh. Penelitian ini dilaksanakan di SMP ISLAM AS-SHAFTA dan memberikan pengalaman akademik yang sangat berarti bagi saya.
Melalui pengalaman riset tersebut, saya belajar bahwa fisioterapi tidak hanya berkaitan dengan terapi atau penangana keluhan musculoskeletal saja, tetapi juga mencakup edukasi, pencegahan, dan peningkatan kualitas hidup melalui pendekatan ilmiah. Hal ini semakin memperkuat pemahaman saya bahwa kemampuan komunikasi dan pemahaman ilmiah adalah dua pilar yang saling melengkapi dalam profesi fisioterapi.