Rutinitas sehari-hari mahasiwa: Versi nyata, bukan yang ada di film
Oleh: Zefanya Putri Amelia
Kalau waktu SMA kita sering nonton film yang nunjukin kehidupan kuliah kelihatan estetik, santai, dan penuh nongkrong di kafe kece, kenyataannya… ya beda jauh hehe. Setelah masuk kuliah, barulah kerasa kalau hidup mahasiswa itu bukan sekadar vibes, tapi juga penuh drama, deadline, dan perjuangan bangun pagi.
Biasanya hari dimulai dengan pertarungan antara diri sendiri dan alarm HP. Sudah pasang alarm berlapis-lapis, tetap aja kadang keterusan tidur. Begitu sadar, langsung panik karena jam udah mepet waktu kelas. Mandi kilat, sarapan sepotong roti atau nggak sarapan sama sekali, lalu buru-buru ke kampus. Dalam film, mahasiswa masuk kelas dengan rapi dan tenang. Realitanya? Sebagian dari kita masuk kelas sambil ngos ngosan karena takut dosen udah ada di kelas.
Di kelas pun nggak selalu terlihat seperti di film yang semua orang fokus 100%. Ada yang serius nyatet, ada yang dengan bangga jadi penjaga pintu ke dunia mimpi, ada yang pura-pura fokus padahal pikirannya kemana-mana. Tapi meski begitu, rutinitas kecil seperti rebutan kursi favorit, nunggu jokes receh dosen, atau saling tukar catatan tetap bikin suasana kuliah berwarna.
Setelah kelas selesai, biasanya muncul dilema klasik kaya, makan dulu atau ngerjain tugas? Di film biasanya nongkrong cantik di kafe hits, tapi mahasiswa versi asli lebih sering makan di kantin, warteg, atau tempat makan paling “ramah dompet”. Justru di tempat-tempat inilah terjadi momen-momen penting: curhat bareng, ngerencanain tugas kelompok, atau sekadar ngeluh bareng soal hidup.
Sore hari tiap mahasiswa punya drama masing-masing. Ada yang langsung cabut pulang buat rebahan, ada yang rapat organisasi sampai malam, ada yang kuliah sambil kerja, atau yang lanjut nongkrong sama temen. Intinya, jadwal mahasiswa itu unik banget—nggak ada satu pola yang sama.
Begitu malam tiba, babak baru dimulai… di sinilah mahasiswa kembali berhadapan dengan tugas, deadline, atau laporan praktikum yang numpuk. Tugas yang dari siang cuma dilihat sekilas akhirnya disentuh juga. Ada yang serius ngerjain, ada yang nunggu deadline dulu baru panik, ada yang minum kopi biar mata tetap melek. Yang jelas, film nggak pernah nyeritain betapa seringnya kita begadang cuma buat nyelesain tugas yang mendadak muncul atau baru inget besok harus dikumpulin.
Walaupun kedengarannya melelahkan, kehidupan kuliah yang penuh kekacauan ini justru yang nantinya bakal paling kita kangenin. Semua rasa capek, panik, ketawa bareng teman, sampai drama tugas kelompok—semuanya bagian dari cerita hidup yang ngebentuk kita jadi lebih mandiri dan tangguh.
Pada akhirnya, hidup mahasiswa itu bukan tentang kehidupan estetik ala film. Tapi tentang belajar nemuin ritme sendiri, jatuh-bangun ngatur waktu, dan menikmati perjalanan yang, meskipun sering bikin pusing, tetap seru dijalanin. Karena jujur aja, masa-masa ini bakal jadi cerita paling berharga setelah lulus nanti.